the power of bear
News
Ilmu Pengetahuan pada Masa Kejayaan Islam
Sep 4th
Pada masa kejayaan Islam ilmu pengetahuan dan teknologi sudah hidup berdampingan, inilah yang membuat begitu maju daripada bangsa barat pada saat itu yang sangat anti terhadap perkembangan Ilmu pengetahuan, sehingga pada saat itu disebut sebagai jaman kegelapan oleh orang-orang Eropa.
Pada saat itu filusuf atau kelompok pemikir sangat berkembang yang ini lah mendorong perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini berkembang karena pada saat itu kekuasaana islam sangat luas sehingga banyak pemikir-pemikiran dan ide-ide dari bangsa lain termasuk orang Hindu dari India, Budha dari Asia Tengah, Persia dan Yunani. Roma nyaris mati pada saat itu, dan Konstatintinopel telah berubah menjadi gurun intelektual yang biasa-biasa saja, sehinga pemikir paling orisinal yang masih menulis dalam bahasa Yunani berkerumun di Alexandria, yagn telah jatuh ke tangan Islam. Alexandria memiliki perpustakaan yang hebat dan berbagai akedemi, menjadikannya sebagai ibukota intelektual dunia GrekoRomawi.
Di Alexandria, umat Islam menemukan karya-karya Plotinus, seorang filusuf yang pernah mengatakan bahwa segala sesuatu di alama semesta ini saling terhubung dari sebuah organisme tunggal, dan semuanya menyatu ke dalam Satu yang mistis, yang darinya segala sesuatu berasal dan yang kepadanya segala sesuatu kembali.
Dalam konsep tentang yang Satu ini, kaum muslim menemukan gema yang mendebarkan bagi penekanan apokaliptik Nabi Muhammad tentang keesaan Allah (tauhid). Terlebih lagi, ketika umat Islam meninjau pemikiran Plotinus, nemukan bahwa dia telah membangun sistem dengan logika yang ketat dari sejumlah kecil prinsip, sehingga membangkitkan harapan bahwa wahyu Islam dapat dibuktikan dengan logika.
Eksplorasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa Plotinus dan rekan-rekannya hanyalah eksponen terkakhir dari garis pemikiran yang bermula dari filusuf Athena yang jauh lebih besar ribuan tahun silam bernama Plato. Dan dari Plato, kamu muslim selanjutnya nemukan seluruh perbendaharaan pemikiran Yunani, dari masa pra-Sokrates hingga Aristoteles dan seterusnya.
Bangsawan Bagi Abbasiyah pada saat itu menaruh minat besar atas semua ide ini. Siapa pun yang bisa menerjemahkan sebuah buku dari bahasa Yunani, Sangsekerta, Cina dan Persia ke dalam bahasa Arab bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Penerjemah professional berbondong-bondong ke Bahgdad. Mereka mengisi seluruh perpustakaan di ibukota dan kota-kota besar lainnya dengan teks klasik yang telah diterjamahkan dari bahasa lain.
Kaum muslim adalah intelektual pertama yang melakukan perbandingan antara, matematika Yunani dan India, atau kedokteran Yunani dan India, atau kosmologi Persia dan Cina, atau metafisika dari berbagai kebudayaan. Mereka mulai menyelidiki bagaimana ide-ide kuno ini cocok dengan satu sama lain dan dengan wahyu lslam, bagaimana spritualitas terkait dengan nalar, dan bagaimana langit dan bumi ditarik dalam ke dalam satu skema yang menjelaskan seluruh alam semesta.
Plato telah menggambarkan dunia material sebagai maya (ilusi) dari dunia “nyata” yang terdiri atas “bentuk-bentuk” yang tak berubah dan kekal, dengan demikian, setiap kursi sebenarnya tak lebih dari salinan yang kurang sempurna dari kursi “ideal” yang ada hanya di alam universal. Mengikuti Plato, filusuf muslim menyatakan bahwa setiap manusia adalaha campuran nyata dan ilusi. Sebelum kelahiran, jelas jiwa tinggal di wilayah universal, dalam kehidupan jiwa menjadi berkaitan dengan tubuh yang terdiri dari materi, dan pada saat kematian keduanya terpisah, tubuh kembali ke dunia semua materi sementara jiwa kembali kepada Allah.
Meski sangat setia pada Plato, filsuf muslim juga memilki kekaguman besar pada Aristoteles, pada logikanya, teknik-teknik klasifikasinya, dan pemahamannya yang kuat tentang pertikularitas. Mengikuti Aristoteles, filusuf muslim mengategorikan dan mengklarifikasi dengan logika obsesif. Filusuf Al-Kindi menggambarkan alam semesta material menurut lima prinsip pengatur: materi, bentuk, gerak, waktu dan ruang. Dia menganalisis ke sub kategori, membagi gerak, misalnya, ke dalam enama jenis: lahir, rusak, bertambah, berkurang, berubah sifat, dan berubah posisi. Dia terus melanjutkan ini, bertekah membelah semua realitas menjadi bagian-bagian yang terpisah yang dapat dipahami akal.
Filusuf Al-Faribi secara khusus merekomendasikan agar para murid memulai dengan mempelajari alam, beralih ke studi tentang logika, kemudian akhirnya berlanjut ke yang paling abstrak dari semuat displin ilmu, matematika.
Orang Yunani menemukan geometri, ahli matematika India muncul dengan ide cemerlang memperlakukan nol sebagai angka, orang Babel menemukan gagasan tentang nilai tempat, dan umat Islam mensistematisasi semua gagasan ini, menambahkan beberapa gagasan dari mereka sendiri, untuk menciptakan aljabar dan bahkan meletekkan dasar-dasar matematika modern.
Di sisi lain, minat mereka mengarahkan para filusuf kepada hal-hal praktis. Dengan melakukan kompilasi, katalogisasi, dan refrensi silang penemuan-penemuan medis dari berbagai negeri, pemikir seperti Ibnu Sina mencapai pemahaman yang hampir modern tentang penyakit dan perawatan medis serta anatomi, sirkulasi darah sudah mereka ketehui, demikian pula fungsi hati dan sebagian bsar organ utama lainnya. Dunia muslim tak lama kemudian memiliki rumah sakit terbaik di dunia yang perna ada pada saat itu atau untuk selama berabad-abad yang akan dating, Baghdad sendiri memiliki ratusan fasilitas semacam ini.
Para filosof muslim era Abbasiyah ini juga meletakkan dasar-dasar kimia sebagai suatu displin dan menulis risalah-risalah tentang geologi, optik, botani, dan hampir semua bidang studi yang kini dikenal sebagai sains. Mereka tidak menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda. Seperti di Barat, dimana ilmu pengetahuan sejak lama disebut sebagai filsafat alam, mereka melihat tidak ada perlunya mengkelompokkan beberapa spekulasi mereka ke dalam kategori yang berbeda dan menyebutnya dengan nama yang baru, namun sejak awal mereka mengakui kuantifikasi sebagai alat untuk mempelajari alam, yang merupakan salah satu pilar utama ilmu pengetahuan sebagai sebuah bidang yang mandiri. Mereka juga mengandalkan pengamatan untuk dasar teori-teori, pilar kedua ilmu pengetahuan. Mereka tidak pernah mengartikulasikan metode ilmiah gagasan tentang pembangunan pengetahuan secara bertahap dengan merumuskan hipotesis dan kemudian merancang percobaan untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan. Andai mereka telah menjebati celah itu, ilmu pengetahuan seperti yang kita ketahui mungkin telah berkecambah di dunia muslim zaman Abbasiyah, tujuh abad sebelum kelahirannya di Eropa Barat.
Tapi itu tidak terjadi, karena dua alasan, yang salah satunya melibatkan interkasi antara sains dan teologi. Pada tahap awalnya, ilmu pengetahuan secara inheren kesulitan untuk memisahkan diri dari teologi. Masing-masing tampakna memiliki implikasi bagi yang lain, setidaknya bagi para pratiksinya. Ketika Galileo mempromosikan teori bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, otoritas agama mengadilinya karena menganggap bid’ah. Bahkan saat ini di Barat, kaum konservatif Kristen mempertentangkan narasi alkitabiah tentang penciptaan dengan teori evolusi, seolah-olah keduanya merupakan penjelasan yang saling bersaing tentang teka-teki yang sama. Sains menantang agama kernta bersikeras pada kecukupan metodenya untuk mencari kebenaran, eksperimentasi dan nalar tanpa bantuan wahyu. Di Barat, bagi kebanyakan orang, kedua bidang itu telah mencapai suatu kompromi dengan menyetujui untuk membedakan bidang penyelidikan mereka, prinsi alam dalah milik ilmu pengetahuan, sedangkan moral dan etika merupakan wilayah agama dan filsafat.
Di Irak pada abak ke-9 dan ke-10, tidak terdapat sains murni yang bisa dipisahkan dari agama. Para filusuf melahirkannya tanpa cukup menyadarinya. Mereka menganggap agama sebagai bidang penlitian mereka dan teologi sebagai kekhususan intelektual mereka, mereka sedang dalam pencarian untuk memahami hakikat terdalam realitas. Sehingga, apapun yang mereka temukan tentang botani, optik atau penyakit adalah produk sampingan dari pencarian inti. Sehingga mereka tidak ragu-ragu untuk mengajukan pertanyaan “jika seseorang melakukan dosa besar, apakah disebut nonmuslim atau hanya seorang muslim yang buruk?”. Yang menurut orang modern itu merupakan diluar dari kewenangan seorang ahli kimia atau dokter. Pada dunia muslim, sebagai sandaran hokum, para ulama membagi dunia antara masyarakat orang beriman dan tidak beriman, karenanya penting untuk mengetahui apakah orang tertentu berada pada yang ini atau itu.
Para filusuf yang mengangani pertanyaan ini mengtakan umat Islam yang berdosa besar mungkin masuk termasuk golongan ketiga. Dari konsep ini berkembang sebuah mazhab teologi sendiri yang disebut Muktazilah, bahasa Arab untuk “orang yang memisahkan diri”, disebut demikan karena mereak telah memisahkan diri dari arus utama keagamaan. Seiring dengan waktu para teolog ini merumuskan seperangkat ajaran agama yang menarik bagi para filusuf.
Filusuf ilmuwan umumnya mengafiliasi diri mereka dengan mazhab Muktazilah, tidak diragukan lagi karena itu memvalidasi cara penyelidikan mereka. Beberapa di antara filusuf ini bahkan meletakan nalar lebih tinggi daripada wahyu. Filusuf Abu Bakr Al-Razi secara terang-terangan menyatakan bahwa mukjizat yang diberikan nabi-nabi pada masa lalu itu hanya legenda dan bahwa surga dan neraka adalah kategori-kategori mental, bukan realitas fisik. Hal ini lah menempatkan para ulama dan filusuf saling berselisih. Karena ajaran para filusuf secara implisit membuat ajaran para ulama tidak relevan.
Ulama berada dalam posisi yang baik untuk melawan tantangan seperti ini. Mereka mengendalikan hukum, pendidikan kaum muda, lembaga-lembaga sosial, dan yang paling penting mereka memiliki kesetiaan massa. Tapi Muktazilah juag punya kelebihan, dukungan Istana, keluarga kerjaan, para bangsawan dan pejabat pemerintah. Bahkan khalifah Abbasiyah ketujuh mejadikan teologi Muktazilah sebagai doktrin resmi negeri itu. Para hakim harus melewati tes filsafat dan calon administrator harus bersumpah setia kepada nalar, untuk memenuhi syarat sebuah jabatan.
Lalu, raksasa intelektual sejarah dunia lahir, dari orang tua berbahasa Persia di Provinsi Khorasan. Namanya Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Pada awal usia dua puluhan, Ghazali telah memperoleh pengakuan sebagai ulama terkemuka zamannya. Pada masa hidupnya, beberapa ulama telah mengembangkan teologi untuk bersaing dengan kaum Muktazilah, yang disebut Mazha Asy’ariyah. Bersikeras bahwa iman tidak akan bisa didasarkan pada akal, hanya pada wahyu. Fungsi akal hanya mendukung wahyu. Para teolog Asy’ariyah terus-menerus menentang pemuka Muktazilah dalam debat public, tetapi Muktazilah tahu trik orang Yunani memenangkan argument, seperti logika dan retorika, sehingga mereka terus saja membuat Asy’ariyah tampak bingung.
Ghazali datang untuk menyelamatkan meraka. Cara untuk mengalahkan para filusuf, ia menyimpulkan, adalah dengan bergabung bersama mereka lalu mengunakan trik-trik mereka untuk melawan mereka. Dia terjun ke dalam studi tentang zaman antik, menguasai logika, menghirup risalah-risalah bahasa Yunani. Kemudia menulis buku tentang filsafat Yunani yang bernama Maqashid al-Falashifah (Maksud Para Filsuf). Buku itu terutama tentang Aristoteles. Dalam kata pengantar, dia mengatakan orang Yunani itu keliru dan dia akan membuktikan itu, tetapi pertama-tama dia menjelaskan apa filsafat Yunani itu sebenarnya gara pembaca akan tahu apa yang ia sangkal ketika membaca buku selanjutnya.
Pemikiran Ghazali yang terbuka memang menimbulkan kekaguman orang. Dia tidak membuat boneka jerami untuk dirobohkannya sendiri. Urainnya tentang Aristoteles begitu jernih, sangat terpelajar, bahkan ahli Aristoteles yang membaca bukunya akan lebih mengerti Aristoteles.
Buku Ghazali sampai ke Andalusia darn dari sana ke Eropa, disana buku itu memukau beberapa orang yang bisa membacanya. Orang Eropa Barat telah cukup banyak melupakan pemikiran Yunani klasik sejak kejatuhan Roma. Bagi kebanyakan orang, lewat buku inilah mereka pertama kali mengenal Aristoteles. Namun, pada suatu waktu dalam perjalanannya, kata pengantar Ghazali dilepas dari buku ini, sehingga orang Eropa tidak tahu bahwa Ghazali menentang Aristoteles. Sebagian bahkan berpikir dia adalah Aristoteles, yang menulis dengan nama samaran. Singkatnya, Maksud para Filsuf begitu mengesankan bagi orang Eropa sehingga bagi mereka Aristoteles meraih aura otoritas yang di hormati, dan para filsuf Kristen terkemudian mencurahkan banyak energi untuk mendamaikan gereja dengan pemikiran Aristoteles.
Ghazali telah menulis lanjutan dari Maksud para Filsuf, buku penting yang kedua yang berjudul Tahafut al-Falasifah (Ketidaklogisan para Filsuf). Pada kitab tersebut, Ghzali mengindetifikasi dua puluh premis yang menjadi sandaran filsafat Yunani, kemudian menggunakan logika silogisme untuk membongkar masing-masingnya. Salah satu serangannya terhadap gagasan tentang hubungan sebab akibat antara fenomena material. Hubungan seperti itu tidak pernah ada, menurut Ghazali, kita berpikir api menyebabkan kapas terbakar, karena api selalu ada saat kapas terbakar. Kita keliru menyamakan kesinambungan sebagai kausalitas. Sebeneranya, kata Ghazali, Allah lah yang menyebabkan dan satu-satunya dari segala sesuatu. Api kebetulan berada disana.
Jika kami membuat pemikirin Ghazali terlihat konyol pada bahasan ini, itu hanya kami tidak cukup berpikiran terbuka seperti dirinya terhadap Aristoteles. Argumen yang dasarnya sama pernah juga diajukan kembali oleh Zen Buddhis Amerika Alan Watts, yang menyamakan sebab dan akibat dengan kucing berjalan maju mundur dan melewati celah sempit di pagar. Jika kita melihat melalui celah dari sisi lain, kita harus melihat kepala kucing dan kemudian ekor, yang tidak berarti bahwa kepala kucing itulah yang menyebabkan ekor.
Beberapa filsuf memukul balik. Ibn Rusyd (di Eropa dikenal Averroes) menulis balasan untuk Ghazali berjudul Ketidaklogisan dari Ketidaklogisan (Tahafut al-Tahafut), tetapi itu tidak banyak gunanya, karena Ghazali juga yang menang.
Ghazali meraih penghargaan luar biasa untuk karyanya. Ia diangkat menjadi kepala Universitas Nizamiyah yang prestisius di Baghdad. Kaum mapan ortodoks mengakuinya sebagai otoritas keagamaan terkemuka zaman itu. Akan tetapi Ghazali mempunyai masalah, dia adalah manusia relegius yang autentik, dan entah bagaimana, di tengan status pujian itu , dia tahu tidak memiliki harta sesungguhnya. Dia percaya pada wahyu, dia menghormati Nabi dan Kitab, dia setia pada syariah, tetapi tidak merasakan kehadiran Allah secara jelas, ketidakpuasan seperti ini lah yang melahirkan tasawuf. Ghazali tiba-tiba mengalami krisis rohani, mengundurkan diri dari semua jabatannya, membagikan semua harta miliknya, meninggalkan semua teman-temannya, dan pergi ke pengasingan.
Ketika keluar dari sana beberapa bulan kemudian, dia menyatakan bahwa para ulama benar, tetapi para sufi lebih benar lagi. Hukum adalah hukum dan Anda harus mengikutinya, tetapi tidak bisa mencapai Allah dengan mempelajari kitab dan beramal baik semata. Anda harus membuka hati, dan hanya para sufi yang tau membuka hati.
Ghazali menulis dua buku penting lagi, Kimia Kebahagian (Kimiyyat al-Sa’adat) dan Kebangkitan Ilmu Agama (Ihya ‘Ulumiddin). Dalam kedua buku itu dia menempatkan perpaduan antara teologi ortodoks dan tasawuf dengan menjelaskan bagaimana syariah cocok dengan tarekat, metode sufi untuk menyatu dengan Allah. Dia menciptakan sebua tempat mistisisme dalam kerangka Islam ortodoks dan dengan demikian membuat tasawuf menjadi terhormat.
Sumber: Dari Puncak Baghdad.
Pada masa kejayaan Islam ilmu pengetahuan dan teknologi sudah hidup berdampingan, inilah yang membuat begitu maju daripada bangsa barat pada saat itu yang sangat anti terhadap perkembangan Ilmu pengetahuan, sehingga pada saat itu disebut sebagai jaman kegelapan oleh orang-orang Eropa.
Pada saat itu filusuf atau kelompok pemikir sangat berkembang yang ini lah mendorong perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini berkembang karena pada saat itu kekuasaana islam sangat luas sehingga banyak pemikir-pemikiran dan ide-ide dari bangsa lain termasuk orang Hindu dari India, Budha dari Asia Tengah, Persia dan Yunani. Roma nyaris mati pada saat itu, dan Konstatintinopel telah berubah menjadi gurun intelektual yang biasa-biasa saja, sehinga pemikir paling orisinal yang masih menulis dalam bahasa Yunani berkerumun di Alexandria, yagn telah jatuh ke tangan Islam. Alexandria memiliki perpustakaan yang hebat dan berbagai akedemi, menjadikannya sebagai ibukota intelektual dunia GrekoRomawi.
Di Alexandria, umat Islam menemukan karya-karya Plotinus, seorang filusuf yang pernah mengatakan bahwa segala sesuatu di alama semesta ini saling terhubung dari sebuah organisme tunggal, dan semuanya menyatu ke dalam Satu yang mistis, yang darinya segala sesuatu berasal dan yang kepadanya segala sesuatu kembali.
Dalam konsep tentang yang Satu ini, kaum muslim menemukan gema yang mendebarkan bagi penekanan apokaliptik Nabi Muhammad tentang keesaan Allah (tauhid). Terlebih lagi, ketika umat Islam meninjau pemikiran Plotinus, nemukan bahwa dia telah membangun sistem dengan logika yang ketat dari sejumlah kecil prinsip, sehingga membangkitkan harapan bahwa wahyu Islam dapat dibuktikan dengan logika.
Eksplorasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa Plotinus dan rekan-rekannya hanyalah eksponen terkakhir dari garis pemikiran yang bermula dari filusuf Athena yang jauh lebih besar ribuan tahun silam bernama Plato. Dan dari Plato, kamu muslim selanjutnya nemukan seluruh perbendaharaan pemikiran Yunani, dari masa pra-Sokrates hingga Aristoteles dan seterusnya.
Bangsawan Bagi Abbasiyah pada saat itu menaruh minat besar atas semua ide ini. Siapa pun yang bisa menerjemahkan sebuah buku dari bahasa Yunani, Sangsekerta, Cina dan Persia ke dalam bahasa Arab bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Penerjemah professional berbondong-bondong ke Bahgdad. Mereka mengisi seluruh perpustakaan di ibukota dan kota-kota besar lainnya dengan teks klasik yang telah diterjamahkan dari bahasa lain.
Kaum muslim adalah intelektual pertama yang melakukan perbandingan antara, matematika Yunani dan India, atau kedokteran Yunani dan India, atau kosmologi Persia dan Cina, atau metafisika dari berbagai kebudayaan. Mereka mulai menyelidiki bagaimana ide-ide kuno ini cocok dengan satu sama lain dan dengan wahyu lslam, bagaimana spritualitas terkait dengan nalar, dan bagaimana langit dan bumi ditarik dalam ke dalam satu skema yang menjelaskan seluruh alam semesta.
Plato telah menggambarkan dunia material sebagai maya (ilusi) dari dunia “nyata” yang terdiri atas “bentuk-bentuk” yang tak berubah dan kekal, dengan demikian, setiap kursi sebenarnya tak lebih dari salinan yang kurang sempurna dari kursi “ideal” yang ada hanya di alam universal. Mengikuti Plato, filusuf muslim menyatakan bahwa setiap manusia adalaha campuran nyata dan ilusi. Sebelum kelahiran, jelas jiwa tinggal di wilayah universal, dalam kehidupan jiwa menjadi berkaitan dengan tubuh yang terdiri dari materi, dan pada saat kematian keduanya terpisah, tubuh kembali ke dunia semua materi sementara jiwa kembali kepada Allah.
Meski sangat setia pada Plato, filsuf muslim juga memilki kekaguman besar pada Aristoteles, pada logikanya, teknik-teknik klasifikasinya, dan pemahamannya yang kuat tentang pertikularitas. Mengikuti Aristoteles, filusuf muslim mengategorikan dan mengklarifikasi dengan logika obsesif. Filusuf Al-Kindi menggambarkan alam semesta material menurut lima prinsip pengatur: materi, bentuk, gerak, waktu dan ruang. Dia menganalisis ke sub kategori, membagi gerak, misalnya, ke dalam enama jenis: lahir, rusak, bertambah, berkurang, berubah sifat, dan berubah posisi. Dia terus melanjutkan ini, bertekah membelah semua realitas menjadi bagian-bagian yang terpisah yang dapat dipahami akal.
Filusuf Al-Faribi secara khusus merekomendasikan agar para murid memulai dengan mempelajari alam, beralih ke studi tentang logika, kemudian akhirnya berlanjut ke yang paling abstrak dari semuat displin ilmu, matematika.
Orang Yunani menemukan geometri, ahli matematika India muncul dengan ide cemerlang memperlakukan nol sebagai angka, orang Babel menemukan gagasan tentang nilai tempat, dan umat Islam mensistematisasi semua gagasan ini, menambahkan beberapa gagasan dari mereka sendiri, untuk menciptakan aljabar dan bahkan meletekkan dasar-dasar matematika modern.
Di sisi lain, minat mereka mengarahkan para filusuf kepada hal-hal praktis. Dengan melakukan kompilasi, katalogisasi, dan refrensi silang penemuan-penemuan medis dari berbagai negeri, pemikir seperti Ibnu Sina mencapai pemahaman yang hampir modern tentang penyakit dan perawatan medis serta anatomi, sirkulasi darah sudah mereka ketehui, demikian pula fungsi hati dan sebagian bsar organ utama lainnya. Dunia muslim tak lama kemudian memiliki rumah sakit terbaik di dunia yang perna ada pada saat itu atau untuk selama berabad-abad yang akan dating, Baghdad sendiri memiliki ratusan fasilitas semacam ini.
Para filosof muslim era Abbasiyah ini juga meletakkan dasar-dasar kimia sebagai suatu displin dan menulis risalah-risalah tentang geologi, optik, botani, dan hampir semua bidang studi yang kini dikenal sebagai sains. Mereka tidak menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda. Seperti di Barat, dimana ilmu pengetahuan sejak lama disebut sebagai filsafat alam, mereka melihat tidak ada perlunya mengkelompokkan beberapa spekulasi mereka ke dalam kategori yang berbeda dan menyebutnya dengan nama yang baru, namun sejak awal mereka mengakui kuantifikasi sebagai alat untuk mempelajari alam, yang merupakan salah satu pilar utama ilmu pengetahuan sebagai sebuah bidang yang mandiri. Mereka juga mengandalkan pengamatan untuk dasar teori-teori, pilar kedua ilmu pengetahuan. Mereka tidak pernah mengartikulasikan metode ilmiah gagasan tentang pembangunan pengetahuan secara bertahap dengan merumuskan hipotesis dan kemudian merancang percobaan untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan. Andai mereka telah menjebati celah itu, ilmu pengetahuan seperti yang kita ketahui mungkin telah berkecambah di dunia muslim zaman Abbasiyah, tujuh abad sebelum kelahirannya di Eropa Barat.
Tapi itu tidak terjadi, karena dua alasan, yang salah satunya melibatkan interkasi antara sains dan teologi. Pada tahap awalnya, ilmu pengetahuan secara inheren kesulitan untuk memisahkan diri dari teologi. Masing-masing tampakna memiliki implikasi bagi yang lain, setidaknya bagi para pratiksinya. Ketika Galileo mempromosikan teori bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, otoritas agama mengadilinya karena menganggap bid’ah. Bahkan saat ini di Barat, kaum konservatif Kristen mempertentangkan narasi alkitabiah tentang penciptaan dengan teori evolusi, seolah-olah keduanya merupakan penjelasan yang saling bersaing tentang teka-teki yang sama. Sains menantang agama kernta bersikeras pada kecukupan metodenya untuk mencari kebenaran, eksperimentasi dan nalar tanpa bantuan wahyu. Di Barat, bagi kebanyakan orang, kedua bidang itu telah mencapai suatu kompromi dengan menyetujui untuk membedakan bidang penyelidikan mereka, prinsi alam dalah milik ilmu pengetahuan, sedangkan moral dan etika merupakan wilayah agama dan filsafat.
Di Irak pada abak ke-9 dan ke-10, tidak terdapat sains murni yang bisa dipisahkan dari agama. Para filusuf melahirkannya tanpa cukup menyadarinya. Mereka menganggap agama sebagai bidang penlitian mereka dan teologi sebagai kekhususan intelektual mereka, mereka sedang dalam pencarian untuk memahami hakikat terdalam realitas. Sehingga, apapun yang mereka temukan tentang botani, optik atau penyakit adalah produk sampingan dari pencarian inti. Sehingga mereka tidak ragu-ragu untuk mengajukan pertanyaan “jika seseorang melakukan dosa besar, apakah disebut nonmuslim atau hanya seorang muslim yang buruk?”. Yang menurut orang modern itu merupakan diluar dari kewenangan seorang ahli kimia atau dokter. Pada dunia muslim, sebagai sandaran hokum, para ulama membagi dunia antara masyarakat orang beriman dan tidak beriman, karenanya penting untuk mengetahui apakah orang tertentu berada pada yang ini atau itu.
Para filusuf yang mengangani pertanyaan ini mengtakan umat Islam yang berdosa besar mungkin masuk termasuk golongan ketiga. Dari konsep ini berkembang sebuah mazhab teologi sendiri yang disebut Muktazilah, bahasa Arab untuk “orang yang memisahkan diri”, disebut demikan karena mereak telah memisahkan diri dari arus utama keagamaan. Seiring dengan waktu para teolog ini merumuskan seperangkat ajaran agama yang menarik bagi para filusuf.
Filusuf ilmuwan umumnya mengafiliasi diri mereka dengan mazhab Muktazilah, tidak diragukan lagi karena itu memvalidasi cara penyelidikan mereka. Beberapa di antara filusuf ini bahkan meletakan nalar lebih tinggi daripada wahyu. Filusuf Abu Bakr Al-Razi secara terang-terangan menyatakan bahwa mukjizat yang diberikan nabi-nabi pada masa lalu itu hanya legenda dan bahwa surga dan neraka adalah kategori-kategori mental, bukan realitas fisik. Hal ini lah menempatkan para ulama dan filusuf saling berselisih. Karena ajaran para filusuf secara implisit membuat ajaran para ulama tidak relevan.
Ulama berada dalam posisi yang baik untuk melawan tantangan seperti ini. Mereka mengendalikan hukum, pendidikan kaum muda, lembaga-lembaga sosial, dan yang paling penting mereka memiliki kesetiaan massa. Tapi Muktazilah juag punya kelebihan, dukungan Istana, keluarga kerjaan, para bangsawan dan pejabat pemerintah. Bahkan khalifah Abbasiyah ketujuh mejadikan teologi Muktazilah sebagai doktrin resmi negeri itu. Para hakim harus melewati tes filsafat dan calon administrator harus bersumpah setia kepada nalar, untuk memenuhi syarat sebuah jabatan.
Lalu, raksasa intelektual sejarah dunia lahir, dari orang tua berbahasa Persia di Provinsi Khorasan. Namanya Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Pada awal usia dua puluhan, Ghazali telah memperoleh pengakuan sebagai ulama terkemuka zamannya. Pada masa hidupnya, beberapa ulama telah mengembangkan teologi untuk bersaing dengan kaum Muktazilah, yang disebut Mazha Asy’ariyah. Bersikeras bahwa iman tidak akan bisa didasarkan pada akal, hanya pada wahyu. Fungsi akal hanya mendukung wahyu. Para teolog Asy’ariyah terus-menerus menentang pemuka Muktazilah dalam debat public, tetapi Muktazilah tahu trik orang Yunani memenangkan argument, seperti logika dan retorika, sehingga mereka terus saja membuat Asy’ariyah tampak bingung.
Ghazali datang untuk menyelamatkan meraka. Cara untuk mengalahkan para filusuf, ia menyimpulkan, adalah dengan bergabung bersama mereka lalu mengunakan trik-trik mereka untuk melawan mereka. Dia terjun ke dalam studi tentang zaman antik, menguasai logika, menghirup risalah-risalah bahasa Yunani. Kemudia menulis buku tentang filsafat Yunani yang bernama Maqashid al-Falashifah (Maksud Para Filsuf). Buku itu terutama tentang Aristoteles. Dalam kata pengantar, dia mengatakan orang Yunani itu keliru dan dia akan membuktikan itu, tetapi pertama-tama dia menjelaskan apa filsafat Yunani itu sebenarnya gara pembaca akan tahu apa yang ia sangkal ketika membaca buku selanjutnya.
Pemikiran Ghazali yang terbuka memang menimbulkan kekaguman orang. Dia tidak membuat boneka jerami untuk dirobohkannya sendiri. Urainnya tentang Aristoteles begitu jernih, sangat terpelajar, bahkan ahli Aristoteles yang membaca bukunya akan lebih mengerti Aristoteles.
Ghazali telah menulis lanjutan dari Maksud para Filsuf, buku penting yang kedua yang berjudul Tahafut al-Falasifah (Ketidaklogisan para Filsuf). Pada kitab tersebut, Ghzali mengindetifikasi dua puluh premis yang menjadi sandaran filsafat Yunani, kemudian menggunakan logika silogisme untuk membongkar masing-masingnya. Salah satu serangannya terhadap gagasan tentang hubungan sebab akibat antara fenomena material. Hubungan seperti itu tidak pernah ada, menurut Ghazali, kita berpikir api menyebabkan kapas terbakar, karena api selalu ada saat kapas terbakar. Kita keliru menyamakan kesinambungan sebagai kausalitas. Sebeneranya, kata Ghazali, Allah lah yang menyebabkan dan satu-satunya dari segala sesuatu. Api kebetulan berada disana.
Jika kami membuat pemikirin Ghazali terlihat konyol pada bahasan ini, itu hanya kami tidak cukup berpikiran terbuka seperti dirinya terhadap Aristoteles. Argumen yang dasarnya sama pernah juga diajukan kembali oleh Zen Buddhis Amerika Alan Watts, yang menyamakan sebab dan akibat dengan kucing berjalan maju mundur dan melewati celah sempit di pagar. Jika kita melihat melalui celah dari sisi lain, kita harus melihat kepala kucing dan kemudian ekor, yang tidak berarti bahwa kepala kucing itulah yang menyebabkan ekor.
Ghazali membenarkan bahwa matematika, logika, bahkan ilmu-ilmu alam dapat mengantarkan pada kesimpulan yang benar, tetapi setiap kali mereka bertentangan dengan wahyu, semua itu salah.
Sejarah Robot
Jun 30th
Selama ini kita mengenal Leonardo Da Vinci sebagai sebagai perintis teknologi
robot. Namun apabila kita menengok jauh kebelakang lagi ada seorang insinyur Muslim pada awal abad ke 13M yang sangat brilian, Al-Jazari, dia tidak hanya mendesain robot diatas kertas tetapi juga membuatnya, dan juga menurut ensklopedia britannica karya Leonardo da Vinci terpengaruh oleh Al-Jazari.
Sehingga banyak yang mengatakan peradaban Islam pada saat itu merupakan perintis dalam bidang teknologi automata, yakni sebuah mesin yang dapat berjalan sendiri (self operating). Automata sering digunakan untuk menggambarkan sebuah robot atau lebih khusus robot autonomous. Kata Automata berasal dari bahasa Yunani automatos, yakni berlaku atas kehendak sendiri, bergerak sendiri.
Mesin robot yang diciptakan Al-Jazari berbentuk sebuah perahu yang terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat robot pemain musik.

Robot yang terdiri atas dua penabuh drum, seorang peniup harpa, dan pemain suling logam itu diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam acara jamuan minum. Al-Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang di kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. ”Itu adalah automata pertama yang bisa diprogram,” ungkap Prof Noel Sharkey.
Robot penabuh drum yang dirakit Al-Jazari dapat memainkan beragam irama yang berbeda-beda. Robot yang ditemukan Al-Jazari itu juga mengundang kekaguman Charles B Fowler. Menurut dia, temuan insinyur Muslim itu bisa disebut ‘‘robot band”. Sebuah pencapaian penting yang belum pernah ditemukan peradaban lain sebelumnya dan kebudayaan lain di zaman itu.
Secara khusus Mark E Rosheim menyimpulkan, kemajuan yang dicapai dunia Islam di era kejayaan dalam bidang robotika sebagai sebuah penemuan lebih maju dibandingkan zaman Yunani. ”Tak seperti desain Yunani, contoh robot yang diciptakan dunia Islam (Arab) mampu mengundang daya tarik. Tak hanya dalam ilusi dramatis, tetapi mampu menghadirkan lingkungan yang bisa membuat manusia lebih nyaman,” ungkap Rosheim.
Menurut Rosheim, robot ciptaan Al-Jazari itu merupakan salah satu kontribusi peradaban Islam yang sangat penting bagi teknologi. Menurut dia, robot yang diciptakan peradaban Islam di awal abad ke-13 M sudah berbentuk manusia robot dan mampu membantu manusia untuk tujuan praktis. Sayangnya, kata dia, robot itu tak diciptakan untuk kepentingan industri.
Penemuan penting lainnya yang tak kalah menarik adalah pencuci tangan otomatis dengan mekanisme pengurasan. Mekanisme yang dikembangkan Al-Jazari itu, kini digunakan dalam sistem kerja toilet modern. Robot pencuci tangan otomatis itu berbentuk seorang wanita yang berdiri dengan sebuah baskom berisi air.

Ketika seorang pengguna menahan tuas, air akan mengering dan robot wanita itu akan kembali mengisi baskom dengan air.
Robot lainnya yang dikembangkan Al-Jazari adalah air mancur burung merak. Robot ini memudahkan orang saat mencuci tangan, dengan cara ketika air mengisi ke dasar lubang pelampung naik dan ada robot yang menawarkan sabun. Ketika air semakin banyak pelampung ke dua naik dan akan muncul robot ke dua dengan handuk.

Teknlogi robot yang lainnya yang diciptakan Al Jazari adalah sebuah jam yang dianggap sebagai komputer analog pertama yang dapat diprogram. Alat ini disebut sebagai “Castle Clock”, setinggi 3,4m dan mempunyai banyak fungsi selain penunjuk waktu, seperti menampilkan zodiac, orbit matahari dan bulan, juga munculnya robot yang memainkan musik setiap jam. Dan dapat di re-program panjangnya siang dan malam untuk menjelaskan perubahan panjangnya siang dan malam sepanjang tahun.

Teknologi automata yang dikembangkan Al-Jazari mencapai 50 jenis dan semuanya ditulis dan digambarkan dalam kitabnya yang sangat legendaris, Al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Karyanya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Dalam kitab itu, Al-Jazari membeberkan secara detail beragam hal terkait mekanika.
Selain itu, Al-Jazari juga menciptakan teknologi automata lainnya yang berfungsi untuk membantu dan memudahkan tugas manusia. Ia antara lain menciptakan peralatan rumah tangga dan musik automata yang digerakkan tenaga air.
Semua robot yang ditemukan Al-Jazari sungguh sangat mencengangkan. ”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin,” ungkap sejarawan Inggris, Donald R Hill, dalam tulisannya berjudul, Studies in Medieval Islamic Technology.
Sejarawan lainnya yang terpesona dengan risalah penemuan Al-Jazari adalah Lynn White. ”Jelas sudah bahwa penemu roda gigi pertama adalah Al-Jazari. Barat baru menemukannya pada 1364 M.” Menurut Lynn, kata gear (roda gigi) baru menjadi perbendaharaan kata atau istilah dalam desain mesin Eropa pada abad ke-16 M.
Dalam pandangan Donald Hill, tak ada satu pun dokumen yang mampu menandingi karya Al-Jazari sampai abad modern ini. Menurut dia, risalah penemuan Al-Jazari begitu kaya akan instruksi mengenai desain, pembuatan, dan perakitan mesin-mesin.
”Al-Jazari tak hanya mampu memadukan teknik-teknik para pendahulunya dari Arab dan non-Arab, tapi juga dia benar-benar seorang insinyur yang kreatif,’‘ papar Donald Hill yang begitu mengagumi Al-Jazari. Ketertarikannya atas karya sang insinyur Muslim itu, Donal Hill pun terpacu dan terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974.
Vid:
Sumber:
http://masmoi.wordpress.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Jazari
http://davinciautomata.wordpress.com/2007/03/05/al-jazari-and-the-first-programmable-humanoid-robot/
http://www.shef.ac.uk/marcoms/eview/articles58/robot.html
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/301961/al-Jazari
http://www.history-science-technology.com/Articles/articles%206.htm
When Women get Angry
May 6th
Wildlife photographer Lee Whittam was observing lions last December in the Okavango Delta in Botswana, when he captured the incredible moment the lioness clawed the lion’s tongue.
She had been whipping into a jealous rage after a neighbouring in-season lioness called to the lion, and was trying to stop him from crossing over to her.
But the male shook off her desperate attempts, crossing a channel of water to find the other female that was calling him.

Don’t you dare: The lioness catches the lion by his tongue as he tries to make his way to visit a neighbouring lioness in Botswana

You can almost see the hairs of the male’s mane being blown back as the lioness roars her displeasure at him

For a brief moment, the male almost appears contrite – but he quickly got over that, succeeding in his efforts to reach the other female
Sepasang Kekasih Asal Inggris Bertemu Kembali Setelah 60 Tahun
Apr 27th
Ternyata iklan yang dipasang Maimie di sebuah surat kabar membawa kebahagian buat Frank Walker dan Maimie Meakin (80 tahun). Gimana gak lah… setelah 60 tahun terpisah toh mereka bisa bertemu lagi.
“Itu sebuah coba-coba. Ketika aku memikirkannya , sebenarnya itu bukanlah hal yang cukup sopan dilakukan, sejak sudah bertahun-tahun aku gak bertemu dengannya,” ujar Maimie seperti dikutip dari telegraph.co.uk
Adapun awalnya Maimed an Frank bertemu pertama kali tahun 1942 saat pahlawan perang, Frank bekerja sebagai tail-gunner di Royal Air Force yang berlokasi di Glalgow.
Namun pada tahun 1945 mereka harus berpisah karena ibunya Maimie, Grace Holloway, meyakinkan Maime kalau pekerjaan Frank itu sangat berbahaya.
“Bukannya karena orang tuaku gak suka dia, tapi karena dia gak mau menikah lalu menjadi janda setelahnya,” jelas Maimie. Frank Walker sendiri , yang selamat dari misi 36 pemboman yang dilakukan selama bertugas, meninggalkan RAF tahun 1945 dan pulang ke Stockport dan menikah dengan Dorothy tapi baru-baru ini istrinya itu meninggal. Maime sendiri pun menikah dengan Dick Meakin, yang meninggal 4 tahun lalu, dimana dalam pernikahan itu mereka dikarunia 4 anak dan 4 cucu. More >
Makhluk Hidup ‘Abadi’
Feb 22nd
Menurut laporan berita Rusia, beberapa ilmuwan baru-baru ini telah menemukan semacam mikro-organisme laut yang disebut “Turritopsis nutricula”, mungkin adalah satu-satunya makhluk yang hidup abadi di dunia.
Para ilmuwan mengatakan diameter “Turritopsis nutricula” hanya 4-5 mm, organisme yang sangat kecil ini, malah mempunyai kemampuan “kembali awet muda”.
Menurut ilmuwan yang telah lama terlibat dalam penyelidikan sekitar 4.000 “Turritopsis nutricula”, hasilnya menunjukkan bahwa ubur-ubur semacam ini dapat menjadi “kembali muda” lagi, tidak ada satupun yang pernah mati karena unsur mereka sendiri. Ilmuwan menegaskan bahwa: “Turritopsis nutricula” adalah satu-satunya biologi yang ditemukan yang dapat kembali dari tahap sexual dewasa ke tahap larva. More >
Lady Godiva
Jan 1st
Pada abad kesebelas di Inggris, tepatnya di sebuah daerah bernama Coventry, hiduplah seorang bangsawati Anglo-Saxon bernama Lady Godiva (1040-1080). Godiva, versi lainnya adalah Godgifu atau Godgyfu, berarti berkah dari Tuhan. Lady Godiva adalah istri dari Leofric, Earl of Mercia, salah satu tuan tanah yang berkuasa memerintah Inggris di bawah Raja Denmark, Canute.
Salah satu tugas Leofric adalah mengurus masalah finansial dan pembangunan kota Coventry. Untuk mengembangkan kotanya, tentu saja dibutuhkan dana dan oleh sebab itu Leofric menetapkan berbagai pajak untuk orang-orang Coventry (termasuk konon pajak yang konyol seperti denda karena kuda seseorang buang kotoran sembarangan dan pajak atas lukisan). More >


Recent Comments